Batas Nyata antara Mengetahui dan Memahami


Dewasa ini kita seringkali dihadapkan pada kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan. Begitu pula mengenai kesesuaian antara perkataan dan perbuatan. Banyak orang mengira bahwa cukup dengan berkata semua hal akan selesai. Namun pada kenyataannya perbuatan lebih bisa dijadikan bukti daripada hanya sekedar ucapan. Semua orang bisa berkata, tapi tak semua orang bisa bertindak.
Suatu hari di kelas yang dihuni beberapa siswa sedang asik berdebat. Pemicunya adalah pertanyaan dari guru mengenai perbedaan antara makna mengetahui dan memahami. Ada beberapa pendapat, namun jika diringkas hanya ada dua pendapat. Pendapat yang pertama mengatakan bahwa pengertian antara mengetahui dan memahami itu sama. Seseorang yang mengetahui sudah pasti memahami. Hal ini dicontohkan dengan seseorang yang mengetahui bahwa dirinya sakit magh tentu dia akan memahami bahwa dia harus mengurangi makanan-makanan pemicu asam lambung naik seperti makanan pedas, masam, juga minuman mengandung kafein. Pendapat yang kedua menyatakan bahwa mengetahui dan memahami adalah sesuatu yang berbeda. Seseorang bisa jadi mengerti mengenai sesuatu namun tidak memahami makna dibalik apa yang dia ketahui. Hal ini dicontohkan dengan kasus ada seseorang mengetahui bahwa mengeluh adalah sesuatu yang sepantasnya dihindari karena hanya akan memperberat masalah hidup. Namun dia tidak memahami bahwa hal tersebut juga berkaitan dengan perasaan orang lain, sehingga dia tetap saja mengeluh setiap saat.
Sang guru yang memberikan pertanyaan hanya tersenyum mendengarkan pendapat murid-muridnya. Guru tersebut kemudian menghentikan perdebatan diantara muridnya seraya mengatakan bahwa jawaban kedua pendapat tersebut sama-sama benar, hanya kita melihat dari perspektif yang mana. Di akhir penjelasannya, guru tersebut mengatakan bahwa batas jelas antara mengetahui dan memahami adalah pada tindakan yang dilakukan. Bisa jadi seseorang yang mengetahui itu memang memahami karena setelah dia mendapatkan ilmu baru, dia akan langsung menerapkannya. Di sisi lain, ada orang yang yang dia memang mengetahui namun enggan memahaminya sehingga dia tetap saja melakukan kesalahan dan tidak mau menerapkan ilmu tersebut dalam kehidupannya.
 Murid-murid sang guru kemudian mengangguk perlahan sembari menerawang ke alam antah berantah seraya membayangkan makna mendalam yang sudah disampaikan oleh sang guru. Akankah mereka menjadi orang yang mengetahui sekaligus memahami ataukan menjadi orang yang mengetahui tanpa memahami. Sama seperti ketika kita berucap, ketika kita mengetahui dan memahami apa yang kita ucapkan kita akan merealisasikannya dalam kehidupan nyata. Jika kita hanya mengetahui tanpa memahami sama saja dengan tong kosong berbunyi nyaring.


Nikmatul ‘Azizah
Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan

Universitas Gadjah Mada

Comments

Popular posts from this blog

Perjalanan Beasiswa VLIR-UOS

Kontemplasi Al Faqir Eps. 1

Kembali