Posts

Kembali

 Ghent, 23 Agustus 2022 Hari ini alhamdulillah sudah kembali ke Ghent setelah selama 6 bulan bersemedi dengan sangat khusuk di Afrika Selatan. Tanpa manusia dari belahan manapun sehingga bisa mengisi energi dengan sangat penuh. Dan sangat tercermin dari wajah yang sangat berbinar saking bahagianya.  Biasanya aku memulai cerita dengan alur maju, jadi dari masa lalu dan pelan-pelan menuju ke arah masa depan. Tapi ternyata hal tersebut membutuhkan waktu, energi, dan memori untuk digali dibandingkan menceritakan apa yang sedang terjadi saat ini. Karenya, hari ini aku hanya akan menceritakan apa yang terjadi hari ini. Jika tidak terlalu panjang, akan kusambung dengan hari terakhirku di SA. Sebenarnya ingin menceritakan dari peristiwa hari ini dimana aku sudah menginjakkan kaki kembali di benua biru. Tapi kurang lengkap jika tidak menceritakan apa yang terjadi kemarin, karena pesawatku took off last night. Oke kita agak mundur dikit ke hari kemarin dimana kemarin adalah hari tersedi...

Baik tapi tidak sefrekuensi

 Ketika pulang ke Indonesia, saya menghubungi beberapa teman untuk bertemu. Ada yang sudah terlaksana, ada yang belum. Karena sebuah pertemuan adalah sesuatu yang sulit bagi saya (maafkan saya jika sering membatalkan pertemuan di last minute 🙏🏻). Saya membatasi komunikasi dengan orang-orang yang disinyalir menjadi orang toxic dalam kehidupan saya. Tapi saya kembali merenung, apa iya mereka toxic? Mereka sebenarnya baik juga kok, hanya agak tidak nyambung saja ketika ngobrol. Nah! Itu dia. Ketidaknyambungan inilah yang menjadikan orang memberikan respon yang berbeda. Orang bingung bagaimana harus bersikap.  Misalnya ketika saya bertemu teman, saya kira dia akan menjadi pendengar yang baik, ternyata malah bertanya pada saya "perempuan dan laki-laki itu biasa ya tinggal bersama di sana meskipun belum menikah", dan itu ditanyakan sampai 3x. Lalu yang bersangkutan bercerita panjang lebar tentang apa yang dia ketahui. Saya dalam hati membatin, lahhh pegimana sih ini. Akhirnya say...

Luar Negeri (1)

Sebenarnya sudah lama ingin sekali nulis untuk berbagi cerita tapi qadarullah baru sekarang menyempatkan diri untuk menulis. Orang yang kenal saya sejak kuliah baik yang dekat atau hanya sekilas pasti sangat paham betapa diri ini sangat ambisius untuk ke luar negeri. Tidak ada satupun yang bertanya kenapa saya begitu, pun juga saya tidak berminat menceritakannya. Kenapa? Karena yaaa apa manfaatnya 😅. Tapi kali ini beda cerita, karena saya akan sedikit membongkar resep dapur yang mungkin banyak orang penasaran namun hanya mampu bertanya dalam hati atau pun hanya rasan-rasan dengan rekan sejawat. Kalau membicarakan mengenai ambisi ke luar negeri, rasanya seperti menceritakan sebuah sejarah. Kenapa? Karena ambisi ini adalah akumulasi keinginan yang belum tercapai bertahun-tahun lamanya. Saya terfikir untuk ke luar negeri sejak 2007. Ketika masih di bangku sekolah dasar dengan polosnya bermimpi bertemu pangeran impian sambil bertanya "kamu selama ini kemana?" Dijawablah dengan l...

Kontemplasi Al Faqir

 Menjadi Istri dan Ibu. Kemarin aku menulis sebuah status di media sosial mengenai beratnya tugas menjadi seorang istri dan ibu. Kurang lebih seperti ini isinya :  Menjadi istri dan ibu adalah sebuah pilihan dan anugerah. Betapa tanggungjawab yang sangat besar harus diemban. Lalu kita bertanya, sejak kapan mestinya kita mempersiapkan itu? Tentu saja sejak memilih calon suami dan ayah untuk anak-anak kita. Nanti kalau terlalu pemilih nggak ada yang mendekat? Hahaha, kenapa mesti risau kalau kita tetap yakin, berdoa, dan berusaha menuju ke sana? InsyaAllah akan sampai kok. Nyatanya kan, rumahtangga adalah organisasi terkecil namun juga terbesar dalam membentuk peradaban. Oleh sebab itu ilmu sabar dan semangat untuk senantiasa belajar hingga akhir hayat haruslah menjadi bekal paling dasar. Kenapa juga mengambil ikon sepeda? Hidup kan seperti itu, sering di atas tak jarang di bawah. Kuncinya ya terus saja mengayuh sampai pemberhentian terakhir, yaitu saat kita bisa melihat Allah d...

Kontemplasi Al Faqir Eps. 1

Serius Suatu hari aku berbicara dengan temanku di media sosial. Kita yang sama-sama suka menulis akhirnya agak nyambung ngobrolnya.  "kamu biasanya nulis tentang apa?" "cerpen cinta, filosofi, psikologi, dan self development." "Whattttt???? kamu tu juga suka tema cinta-cintaan?" "hahahaha, kenapa semua orang ngomong gitu sih. Memangnya selama ini, aku tercitrakan "serius"?" "hahaha, iya. Kamu itu terlihat serius, tidak terlihat dan tidak mungkin menjadi bucin-bucin alay kayak gitu." Dalam hati aku tersenyum kecut. Apa memang aku orangnya seserius itu ya sampai semua orang menyimpulkan hal yang sama, haha. Padahal selama ini aku sudah jadi orang yang jayus dan suka bercanda.  Tapi mengilhami percakapan itu, aku jadi teringat beberapa kisah yang memang menggambarkan bagaimana seriusnya diri yang fana ini. cerita pertama berawal ketika ada salah satu senior di tempatku menimba ilmu ingin belajar mengaji padaku. beliau sudah serin...

Sepucuk Rindu untuk Bapak

Klaten, 27 Desember 2017 Ketika aku sedang terbang mencari tujuan Sayapku yang satu patah Rasanya ngilu ketika aku terbang hanya dengan satu sayap Rasanya ingin tinggal di sarang saja Dan melupakan kehidupan yang masih panjang ini Tapi ada satu sayap yang harus kubawa terbang tinggi Menyusuri luasnya langit Ah... Mataku tak kuat untuk tak ikut campur Dia melelehkan air bening dari pelupuk mata puisi ini dibuat ketika Bapak kembali ke haribaanNya, meninggalkan beribu luka dan kenangan, yang tentunya tak akan pernah terganti sampai kapanpun. 

Ramadhan di Ghent, Belgia

Jumat, 23 April 2021 Marhaban yaa Ramadhan, eh udah telat deng ya ini kan udah hari ke-11 Ramadhan. Ya Allah cepet banget :( :). Oke, hari ini gw mau cerita pengalaman puasa 16 jam di Ghent, Belgia. Rasa bahagia berkecamuk menjadi satu dengan perasaan terbebani karena harus puasa 2 jam lebih lama daripada di Indonesia. Tapi senengnya lebih banyak kok hehe.  Seperti biasanya, jadwal sholat di negara subtropis pasti akan berubah seiring bergantinya musim. Dan di bulan Ramadhan 1442H ini jatuh di tanggal 13 April-12 Mei 2021. Yep, dan itu sudah memasuki musim semi yang mana bunga-bunga bermekaran (walaupun ada salju di bulan April, wkwkwkwk). Pertanyaannya sekarang adalah "gimana puasa di Ghent?" 1. Berapa lama puasa di sini? kurang lebih di awal 16 jam, pertengahan 17 jam, dan di akhir hampir 18 jam.  2. Rame nggak suasana puasanya? Secara umum, tidak ada yang spesial karena kan negara mayoritas Katholik (walaupun yaaa nggak seagamis itu). Jadi kita bisa dengan mudah menjumpai ...