Ketegaran Hidup


Hidup adalah sebuah perjuangan. Setiap manusia yang telah ditiupkan ruh dan diijinkan meninggalkan rahim ibu maka dia telah memasuka era baru, dunia nyata. Hidup adalah panggung sandiwara yang bahkan lebih dramatis daripada drama itu sendiri. Drama dibuat oleh manusia yang terinspirasi dari kehidupan. Tapi kehidupan adalah sebuah drama yang diciptakan oleh Sang Pencipta.
Hidup selalu dipenuhi dengan lika-liku kehidupan. Bak roda, kadang kita berada di atas, di tengah, bahkan di bawah. Ketika di atas wajib bagi kita untuk bersyukur agar tidak terlena dan terjatuh, di tengah menjadikan kita tetap kalem, dan ketika di bawah mengajarkan kita untuk tetap berjuang dan tegar terhadap segala sesuatu yang kita alami. Hidup tidak akan berhenti ketika kita bahagia, hidup juga tidak akan berakhir ketika kita mengalami kesedihan. Segala sesuatu pasti sudah ada takarannya yang pas, dan tentu sudah berpasang-pasangan. Kita percaya saja bahwa adanya kebahagiaan akan dibarengi dengan kesedihan, siang dengan malam, hidup dengan mati, kaya dengan muda, dan tentu suami dengan istri.
Ketegaran hidup adalah sebuah ilmu yang mudah diucapkan dan sulit dilaksanakan. Aku yang mengetahui tentang ilmu ini langsung diuji oleh Allah apakah benar aku mengamalkan atau hanya sekedar tahu. Malam ini jam berdenting menunjukkan waktu 23.48 kala aku masih merenungi sebuah berita yang sangat menyakitkan hati. Baru saja aku berdiskusi dengan dokter mengenai keadaan suamiku yang sedang berbaring di ranjang rumah sakit karena terserang kanker paru-paru stadium 4. Dokter mengatakan padaku bahwa menurut prakiraan dokter dan sumber medis bahwa suamiku hanya dapat bertahan tiga bulan lagi, tepat dimana usianya baru menginjak 46 tahun. Karena tak kuasa menahan kesedihan aku segera mengambil sumber air terdekat dan kubiarkan dahiku bersatu dengan tanah dalam waktu yang cukup lama, kuungkapkan segala yang aku rasakan pada Yang Maha Mendengar. Tangisku keluar tersedu-sedu ketika semua sesak di dada ini telah keluar. Kuiringi dengan membaca firmanNya hingga hatiku tenang dan kemudian aku kembali ke kamar dimana suamiku dirawat. Dia belum memejamkan mata dan masih terjaga. Seperti mengerti apa yang aku rasakan, dia bertanya padaku apa yang sudah dikatakan dokter. Aku menjawab bahwa dia terkena kanker paru-paru, dengan wajah teduh dan sikap tenangnya dia mengatakan bahwa dia akan baik-baik saja dan Allah akan menolong kita. Dengan berat hati, aku mencoba tersenyum menguatkan padahal dalam hati aku berteriak tiada henti sambil bergumam, ‘Bagaimana aku bisa tenang Mas, dokter bilang kamu udah stadium 4 dan usiamu masih 3 bulan lagi.’ Dalam hitungan detik saja, dia sudah berkata, ‘Dek, usia dan kematian seseorang itu sudah Allah tetapkan di lauh mahfudz bahkan sebelum kita dilahirkan di dunia ini. Jadi seberapapun kita memprediksi jika Allah belum berkehendak ya belum terjadi. Tetap husnudzon ya…’
Ya Allah… bagaimana bisa ada orang yang begitu tegar dan sabar seperti ini. Dia yang sakit dan menderita tapi mengapa saya yang bersedih dan berduka. Terkadang aku masih tak percaya, mengapa dia begitu positif menghadapi sebuah cobaan. Aku teringat isi suatu kajian di suatu sore yang intinya ketika kita sakit maka akan dicabut 3 hal dari diri kita yaitu dosa, nafsu makan, dan  keceriaan. Hal ini berlaku ketika kita ikhlas menjalani cobaan/musibah tersebut. Namun bila kita tidak berlapang dada terhadapnya, rasa sakit itu hanya akan menjadi penambah susah hidup kita. Mungkin dia memang sedang mengamalkan ilmu yang telah dia pelajari. Karena memang sejatinya ilmu adalah bukan sebanyak apa kita tahu tapi sebanyak apa kita amalkan.
Setelah kejadian malam itu, aku jadi sering khawatir dan menunggu waktu hingga tiga bulan ke depan. Sebenarnya antara penasaran dan takut dengan apa yang telah dikatakan dokter tempo hari. Penasaran apakah benar prakiraan manusia itu bisa menjadi sebuah kenyataan ataukah hanya sebuah teka-teki berhadiah saja dalam bidang kedokteran. Selama 3 bulan ke depan aku menjadi lebih sering tersenyum dan tertawa untuk menguatkan diriku dan suamiku karena dengan bahagia, setidaknya penyakit akan tidak terlalu dirasakan. Meskipun menyadari atau tidak segala penyakit fisik lebih dominan disebabkan karena faktor psikis.
Tegar dalam kehidupan adalah sebuah perkara yang membutuhkan jam terbang tinggi. Percuma saja kita berkata tegar namun hanya dalam waktu satu hari. Karena seseorang dapat dikatakan tegar adalah ketika dia bisa melakukannya di setia lini kehidupan dalam waktu yang sangat lama dan dalam perkara yang sangat banyak hingga tak terhitung berapa jumlahnya. Hidup terlalu  singkat untuk digunakan untuk mengeluh, oleh sebab itu marilah kita senantiasa tegar menghadapi kehidupan ini. Tetap tersenyum dan bahagia maka kehidupan akan mengikutinya.




Comments

Popular posts from this blog

Perjalanan Beasiswa VLIR-UOS

Kontemplasi Al Faqir Eps. 1

Kembali