Secuil Perbuatan Tak Akan Sia-Sia


  Hari ini saya ingin menyampaikan sedikit cerita tentang kejadian sederhana yang semoga dapat diambil hikmahnya. Hari Senin, 22 Agustus 2017 merupakan hari yang bersejarah bagi saya. Bagaimana tidak, di tanggal tersebut saya mengikuti ORGATROP (International Conference on Organic Agriculture in The Tropics). Meskipun bisa disebut saya tersesat di tempat tersebut tapi saya percaya ada rencana Allah di sana kenapa saya terdampar di sana. Di makan siang, ada sebuah kejadian unik. Ceritanya ada sebuah / 2 buah kertas yang jatuh dari meja. Bagi kami orang Indonesia, hal tersebut bukanlah hal yang tidak masalah karena kami pikir memang kertas tersebut tidak ada gunanya juga bagi kami (lebih tepatnya kami cuek dan masa bodoh dengan hal tersebut). Tiba-tiba ada seorang Bapak (dari fisik dan penampilan beliau sepertinya orang Eropa) yang mengambil kertas tersebut dan diletakkan kembali ke atas meja, namun kertas tersebut jatuh kembali karena angin bertiup cukup kencang siang itu. Tanpa dinyana Bapak tersebut membawa kertas tersebut ke dalam ruangan dan tebak ternyata ngapain? (dalam hati saya sih masih menduga-duga ni Bapak mau ngapain ya). Dan pemirsa, taukah kah apa yang dilakukan Bapak tersebut? Beliau mengambil sendok ke dalam hanya untuk 'mengganjal' kertas tadi agar tidak terbang dan jatuh lagi. Bagi saya pribadi, hal itu aneh dan tidak biasa. Kertas itu bagi saya tidak terlalu penting karena memang saya tidak tahu apa isi dari kertas tersebut. Hal yang lebih bikin ngerasa 'e... -_-' adalah saat Bapak tersebut mengambil benda agar kertas tersebut tidak lagi 'dikerjai' angin. Empati yang begitu besar seringkali membuat saya berfikir lebih. Saya tidak paham apakah mereka beragama apa atau bahkan atheis, tapi mengapa kami yang notabenenya 'beragama' malah tidak memperhatikan hal-hal sekecil itu. Malu nian rasanya. Kemungkinan besar Bapak tersebut berfikir bahwa kertas tersebut merupakan sebuah dokumen yang penting sehingga siapa tau nanti ada orang yang mencari atau memerlukannya (ini sih hanya dugaan saya, hehe)
     Melihat secuil peristiwa hidup di atas, saya jadi ingin mengutip pedoman hidup utama bagi seorang muslim dalam Q.S. 99 : 7-8 berikut :
Image result for al zalzalah 7,8
Saya percaya bahwa janji Allah SWT itu pasti dan jelas kebenarannya. Berbeda dengan manusia yang seringkali tidak tepat dengan janjinya (saya menangis juga karena masih belajar memperbaiki aspek ini). Dalam Q.S. Al Zalzalah ayat 7-8 di atas cukup menampar juga. Allah berfirman bahwa 'Maka, barangsiapa mengerjakan kebaikan sebesar dzarrahpun (mufasir mengatakan dzarrah adalah partikel terkecil dari suatu benda), niscaya dia akan melihat (balasannya). Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula. Bahasa sederhananya sih kita biasa bilang hukum karma, tapi mengingat perbincangan ringan dengan ibunda tercinta bahwa dalam Islam tidak dikenal hukum karma, hanya balasan setiap perbuatan itu ada mengacu pada ayat Al- Qur'an di atas. 
       Ada dua pelajaran yang semestinya kita pahami bahwa :
1. Berbuat baiklah kapanpun dan dimana pun. Kenapa? karena semua perbuatan baik pasti akan dibalas dengan kebaikan. Masalah ada yang tidak membalas atau bahkan membalas kita dengan perbuatan jelek itu sudah di luar jangkauan kita.
2. Minimalisir atau bahkan hilangkan perbuatan buruk karena apa yang kita tanam akan kita panen. Percayalah bahwa hidup di dunia hanya ibarat orang bepergian yang sedang ikut minum di suatu kedai. Terlalu sia-sia kita menghabiskan waktu dengan menuruti nafsu dan mengikuti ajakan dan bisikan syetan yang terkutuk.
Mari bersama-sama membersihkan hati dari virus-virus hati yang mampat dan menyebabkan kita sulit menerima kebaikan. 


Yasri Jogja, 23 Agustus 2017 07.19

Comments

Popular posts from this blog

Perjalanan Beasiswa VLIR-UOS

Kontemplasi Al Faqir Eps. 1

Kembali