Vaksinasi di Belgia
Sebenarnya agak minder untuk menuangkan gagasan atau uneg-uneg dalam bentuk tulisan akhir-akhir ini. Tapi tak mungkin ada 1000 langkah kalau tidak dimulai dengan 1 langkah bukan?
Edisi kali ini masih berkutat pada vaksin. Alhamdulillah hari Rabu, 28 Juli 2021 adalah jadwal untuk mendapatkan vaksin pfizer dosis kedua. Kapan yang pertama? 25 Juni 2021.
Beberapa bulan sebelum bulan Juni, para penghuni grup wa PPI kota mulai ramai dalam proses pendaftaran vaksin yang mbuka websitenya aja bisa membuat kita berjamur, maka kuurungkan untuk mengikuti arus yang cukup beriak itu. Toh nantinya kita akan dapat vaksin juga (mencoba menghibur diri).
Setelah bersabar dalam penantian panjang, akhirnya di hari terakhir ujian akhir semester aku menerima surat cinta untuk mendapatkan vaksin. Yes! Seneng bukan main, tanpa babibu langsung scan qr code yang ada dan buat appointment untuk hari itu juga! Saat itu pulang ujian jam 11an dan buat janji demi bertemu dek vaksin jam 13an cest. Saat menentukan waktu pemberian vaksin dosis pertama, kita diminta memilih waktu juga untuk dosis kedua. Karena ingin menjadi teman yang baik, maka aku bertanya pada gadis China yang akhir-akhir ini menjadi sohib dekatku. Akhirnya kita memutuskan untuk datang bersama saat vaksinasi dosis kedua pada hari Rabu, 28 Juli 2021.
Hal yang ingin kugarisbawahi dalam vaksinasi covid ini adalah efek yang didapatkan pasca menerima vaksin.
Dosis pertama yang didapat sesaat setelah selesai ujian dan dalam suasana hati yang riang gembira, memberikan dampak yang luar biasa. Apa itu? Tidak parah sih, hanya nyeri di bekas suntikan, lemah lunglai dan ingin istirahat saja sepanjang hari. Badan dipaksa untuk menjadi sahabat sejati kasur. Efeknya tidak lama, dua hari cukup dan bisa aktivitas kembali seperti semula.
Bagaimana dengan yang kedua? Diawali dengan suasana yang b aja terkesan agak tidak menyenangkan, akhirnya dosis kedua diberikan dengan lancar. Sebelum meninggalkan tempat, kita diminta tinggal 15 menit untuk mengantisipasi sesuatu yang tidak diinginkan. Masih sama seperti pada dosis pertama, tidak ada efek signifikan yang dirasakan. Namun ternyata si neng dari negara Tirai Bambu itu sudah merasakan sakit kepala dan memintaku mengundur waktu 15 menit sebelum kembali ke dorm. Dalam hati dan pikiran, aku cuma menyugesti diri "woy Zah, loe jangan diem-diem baek kek orang sakit gigi. Loe harus aktifitas seperti biasa even more". Dan ternyata itu cukup manjur menghilangkan efek samping dari vaksin ini. Memangnya kamu ngapain aja habis vaksin? Wooo jelas banyak aktifitas yang dilakukan. Dari masak dan makan sesering mungkin sampai perut begah, ndondomi (menjahit dengan tangan) kaos seporot, bolak-balik kasur-kamar mandi yang hanya berjarak 5 meter itu dan tentunya menggerakkan tangan yang baru saja diberikan suntikan. Kebetulan aku orang yang beraktifitas dengan tangan kanan, makanya aku minta disuntik di tangan kiri. Intinya jangan sampai efek vaksin yang pertama terulang di vaksin kedua. Sebenarnya hari pertama merasa mau pusing, tapi kembali sugesti diri "enggak, ayo kamu sehat, kamu kuat." Sehari setelah vaksin, aku memutuskan pergi ke Leuven, kota sebelah Ghent yang bisa dicapai selama 1 jam dengan kereta SNCB yang desain dan penampilannya aduhai itu. Awalnya aku mengajak temenku untuk pergi bersama, tapi karena temanku ini mendapatkan vaksin dosis kedua sehari sebelumku dan sedang mengalami efek samping berupa demam dan badan pegal-pegal, makanya dia urungkan niat untuk membersamaiku.
Akhirnya tanpa banyak cincong, aku mengambil kereta ke Leuven di jam 10.23 dan akan sampai jam 11.23. Sepanjang jalan di kereta aku mencoba mengkhatamkan buku berjudul filosofi teras, tapi konsentrasi mulai terdistraksi ketika ada mas-mas yang membagikan brosur berbahasa Perancis. Padahal mah aslinya mau menengadahkan tangan aja (red. meminta-minta). Karena sudah cukup paham dengan modus itu, aku sih cuek bebek nggak ngeliatin masnya. Padahal kalau boleh jujur, di kereta Belgia itu jaraaang banget ada peminta-minta atau malah nggak boleh ya (?). Kalau di Brussels mah jangan ditanya. Di metro yang cuma ada di ibukota Belgia itu, bisa ada lebih dari 2 orang yang melakukan hal serupa. Ditambah homeless di sana juga buanyaak (hiks syedih).
Perjalananku akhirnya berhenti di stasiun Leuven. Kulangkahkan kaki ke kota yang sebenarnya aku tidak ingin kembali mengunjunginya. Oh iya bahkan sampai lupa bilang kenapa aku ke sini, aku ke Leuven karena mau pinjam card reader untuk buat akun itsme biar bisa akses sertifikat covid yang bisa jadi paspor buat jalan-jalan keliling Eropa itu tanpa perlu tes pcr.
Lagunya Rossa tiba-tiba hadir di pikiran, apalagi kalau bukan yang berjudul "kumenunggu". Sekitar 30 menit aku menunggu, sosok empunya card reader ini menampakkan batang hidungnya. Setelah gagal menelepon kakak yang akan segera mengakhiri masa lajang itu (niatnya telepon mau pamer aja sih kalau lagi di luar). Akhirnya Uda asli Padang itu datang sambil menyunggingkan senyum dan melambaikan tangan. Kusambut ia dengan berdiri dan tersenyum simpul.
"Wah sorry ya, tadi aku salah naik bis. Harusnya turun di situ tapi malah kebablasan turun di sana (sambil menunjuk halte yang agak jauh).
"Sante Mas."
"Eh iya ini." (Sambil menyerahkan card reader)
"Oke makasih Mas."
"Eh iya katanya kemarin habis vaksin, ini baik-baik saja?"
"Iya alhamdulillah Mas, kalau aktif bergerak malah efek sampingnya nggak kerasa. Tapi kalau diem aja nggak ngapa-ngapain malah kerasa."
"Haha iya, kemarin sih aku pusing dan nyeri aja sih di bekas suntikan. Btw, mau mampir ke toko Asia nggak?"
"Yuk, boleh deh."
"Nah toko Asia di Korenmarkt ini ada 2, deket juga sama butcher halal."
Setelah muter-muter kurang lebih 20 menit akhirnya kita membayar di kasir. Perjalanan pun berakhir saat kita berjalan berdampingan sambil ngobrol ngalor ngidul yang memberikan konklusi
"Panggil nama aja, kan kita taun masuk kuliahnya sama."
Sudah begitu saja cerita hari ini. Oh iya kabar gembiranya, kita bisa dapat tes pcr gratis dari pemerintah Belgia (untuk keperluan travelling) dengan syarat belum mendapatkan undangan untuk vaksin, baru mendapatkan vaksin dosis pertama, atau bagi yang sudah mendapat vaksin dosis kedua tapi tidak lebih dari dua pekan dari tanggal mengajukan tes gratis ini.
Selamat menyimak cerita selanjutnya!
Comments
Post a Comment