Kontemplasi Al Faqir
Menjadi Istri dan Ibu.
Kemarin aku menulis sebuah status di media sosial mengenai beratnya tugas menjadi seorang istri dan ibu. Kurang lebih seperti ini isinya :
Menjadi istri dan ibu adalah sebuah pilihan dan anugerah. Betapa tanggungjawab yang sangat besar harus diemban.
Lalu kita bertanya, sejak kapan mestinya kita mempersiapkan itu? Tentu saja sejak memilih calon suami dan ayah untuk anak-anak kita. Nanti kalau terlalu pemilih nggak ada yang mendekat? Hahaha, kenapa mesti risau kalau kita tetap yakin, berdoa, dan berusaha menuju ke sana? InsyaAllah akan sampai kok.
Nyatanya kan, rumahtangga adalah organisasi terkecil namun juga terbesar dalam membentuk peradaban. Oleh sebab itu ilmu sabar dan semangat untuk senantiasa belajar hingga akhir hayat haruslah menjadi bekal paling dasar.
Kenapa juga mengambil ikon sepeda? Hidup kan seperti itu, sering di atas tak jarang di bawah. Kuncinya ya terus saja mengayuh sampai pemberhentian terakhir, yaitu saat kita bisa melihat Allah di surga bersama orang-orang yang mencintai dan menyayangi kita karena Allah.
Mari kita kupas per paragraf.
Menjadi istri dan ibu adalah sebuah pilihan. Ya, itu adalah sebuah pilihan. Betapa banyak orang yang lebih memutuskan untuk tidak menikah dan tidak memiliki anak. Apa itu salah? tidak. Kembali lagi itu adalah sebuah pilihan. Dan sebuah pilihan seringkali menghasilkan efek samping (tanggungjawab) yang melekat dan tidak bisa dihindarkan.
Bagi setiap orang yang menyandang status istri dan ibu, tanggungjawab yang diemban itu sama. Apa yang membedakan? Ilmu. Meskipun diberikan tanggungjawab yang sama, bisa jadi cara kita menjalani hak dan kewajiban itu berbeda. pemahaman kita terhadap tugas, kewajiban, dan hak menjadi poin penting bagaimana kita menikmati kehidupan pasca pernikahan. Semua orang memang bisa menikah, tapi tidak semua orang berhasil membawa bekal yang cukup. Seringnya mereka belajar langsung dari pengalaman yang mereka rasakan. Bahasa kerennya " learning by doing". Apa salah? tentu tidak. Hanya saja, jika kita sudah mengetahui ilmunya, maka saat dia datang tanpa permisi ya kita santai saja menghadapinya, tidak panik, karena sudah paham.
Oleh sebab itu kapan ilmu mengenai pernikahan itu disiapkan? Tentu sejak dini karena pernikahan hanyalah salah satu fase dalam kehidupan. Hidup tak berhenti di sana, bisa jadi hidup kita berhenti sebelum ataupun sesudah fase ini. Tidak ada yang tahu, karena hanya Allah yang mengetahui segala. Sejak dini adalah sejak kita mempunyai keinginan untuk menikah, jadi kalau dari kecil sudah ingin menikah berarti seiring berjalannya waktu kita akan menemukan banyak ilmu terkait pernikahan. Ilmu memilih pasangan yang sesuai dengan syariat, karakter, dan keinginan kita. Ilmu seputar hak dan kewajiban menjadi suami, istri, dan orang tua. Susah? Tentu saja. Belajarnya saja sudah susah apalagi menjalankannya. Realita itu hanya ada 2 hal yaitu lebih baik atau lebih buruk dari bayangan. Kuncinya adalah di ekspektasi, jangan berharap apapun agar tidak kecewa.
Paragraf selanjutnya adalah mengenai sabar dan semangat belajar seumur hidup. Asli, sabar itu adalah ilmu tingkat tinggi. Nggak ada batasnya, karenanya Allah memberikan pahala yang tak terbatas. Sabar itu kan ada tiga macamnya yaitu sabar dalam menghadapi musibah, sabar untuk tidak melakukan maksiat, juga sabar dalam melaksanakan ketaatan. Jika ada yang menyatakan bahwa sabar itu batasnya, maka itu bukan sabar namanya, mungkin sabir hahaha. Tapi memang ilmu sabar ini bisa meluas pemahamannya, karena ketika kita melaksanakan sebuah ajaran, kita tidak boleh menelan mentah-mentah hal tersebut. Tetap harus dibarengi dengan ilmu yang lain agar pemahaman kita komprehensif.
Keluarga adalah peradaban paling awal seorang manusia. Memang peran keluarga nggak kaleng-kaleng sih. Sebesar itu. Makanya, seorang pemimpin itu akan lahir dari keluarga pemimpin juga, meskipun kadang ya pemimpin dilahirkan dari keluarga yang kita pandang sebelah mata. Tapi penulis tetap meyakini salah satu atau keduaorangtuanya memiliki cita-cita yang luhur.
Sepeda, ikon kehidupan yang biasa digunakan orang-orang untuk mengibaratkan kehidupan ini. Kenapa nggak odong-odong atau becak? hahaha entah, mungkin itu tidak biasa. Keadaan dalam hidup ya begitu. Seringkali kita merasa jadi manusia paling beruntung dan keren di dunia ketika kita mampu mencapai satu titik dalam hidup. Padahal mah, ya biasa aja karena ada orang lain juga yang merasakan hal serupa. Atau kita merasa jadi manusia paling apes dan kasihan di dunia dengan keadaan kita sekarang, padahal mah banyak juga yang merasakan hal serupa. Kita yang nggak mau menengok ke sekitar.
Sudah, ini dulu tulisan absurb kali ini. Masih berantakan alurnya karena baru belajar menulis lagi setelah sekian lama. See u on the next story
Potch, 11 Agustus 2022
Comments
Post a Comment