Luar Negeri (1)
Sebenarnya sudah lama ingin sekali nulis untuk berbagi cerita tapi qadarullah baru sekarang menyempatkan diri untuk menulis.
Orang yang kenal saya sejak kuliah baik yang dekat atau hanya sekilas pasti sangat paham betapa diri ini sangat ambisius untuk ke luar negeri. Tidak ada satupun yang bertanya kenapa saya begitu, pun juga saya tidak berminat menceritakannya. Kenapa? Karena yaaa apa manfaatnya 😅. Tapi kali ini beda cerita, karena saya akan sedikit membongkar resep dapur yang mungkin banyak orang penasaran namun hanya mampu bertanya dalam hati atau pun hanya rasan-rasan dengan rekan sejawat.
Kalau membicarakan mengenai ambisi ke luar negeri, rasanya seperti menceritakan sebuah sejarah. Kenapa? Karena ambisi ini adalah akumulasi keinginan yang belum tercapai bertahun-tahun lamanya.
Saya terfikir untuk ke luar negeri sejak 2007. Ketika masih di bangku sekolah dasar dengan polosnya bermimpi bertemu pangeran impian sambil bertanya "kamu selama ini kemana?" Dijawablah dengan lembut "Belanda". Walhasil negara kincir angin itu adalah negara yang digadang-gadang menjadi negara impian untuk bertemu dengan pujaan hati. Hari berganti bulan dan bulan berganti tahun tanpa usaha yang berarti. Singkat cerita, saat menginjakkan kaki di masa sekolah putih biru (red. MTs/SMP) ada salah seorang alumni yang cerita bahwa beliau akan melanjutkan studi di Inggris. Walhasil keinginan ke luar negeri ini pun kembali membara beberapa saat tanpa usaha tentunya hehe.
Usaha itu baru dimulai ketika diri ini beruntung diterima di SMA nomor wahid di Kota Bersinar. Saat itu ada program pertukaran pelajar (AFS/YES). Lupa saat itu penulis memilih negara mana, intinya belum lolos. Kemudian usaha kedua datang ketika hampir selesai masa studi. Penulis memberanikan diri mendaftar program beasiswa S1 ke Jepang dengan rival pelajar Teladan dan Taruna Nusantara. Jiwa kerdil ini semakin merasa kecil karena sadar akan kemampuan diri. Dan ya.. begitulah, kembali belum berhasil.
2013 adalah tahun dimana penulis memulai perkuliahan di Kampus Biru. Ternyata kesempatan ke luar negeri suaaaaaaaangattttttt banyak. Saking banyaknya, tidak mungkin didaftarin semua. Berkali-kali daftar, berkali-kali gagal. Begitu terus. Selalu ada drama, bahkan saat sudah diterima tinggal mencari pendanaan ya tetep aja rasa enggan untuk berjuang masih membersamai. Pada akhirnya di tahun 2016, diri ini menyerah untuk hanya ke luar negeri sebagai wisatawan bukan sebagai peserta exchange student atau pemateri conference. Negara pertama yang dikunjungi adalah Singapura dan Malaysia. Banyak drama juga di sana, kapan-kapan kita bisa ceritakan.
Singkat cerita 2019 ke Jepang gratis selama 40 hari. Dan puncaknya adalah 18 September 2020, kaki ini benar-benar menginjakkan kaki di Belanda, negara impian, untuk transit sebelum menuju ke Belgia.
Segitu dulu cerita singkat ambisi ke luar negeri ini muncul, hehe.. insyaAllah kita akan jabarkan satu per satu cerita lengkap di setiap fasenya. See u!
Comments
Post a Comment